Pemanfaatan Sungai Bawah Tanah


Air bawah tanah didaerah karst (batu gamping), mempunyai sistim hidrologi yang berbeda dengan daerah non karstik. Hal ini berhubungan dengan sifat fisik-kimia batu gamping. Batu gamping bersifat porous, dan langsung meluluskan air hujan yang jatuh dipermukaan tanah melewati rekahan-rekahan pelapisan batuan vertikal dan horisontal.

Sehingga tidak memungkinkan terdapatnya air di permukaan. Kemudian air yang mengalir dibawah permukaan akan terakumulasi dalam suatu pola aliran tertentu sebagaimana layaknya sungai permukaan, dengan melewati lorong-lorong gua menjadi sungai bawah tanah. Dan setiap musim kemarau tiba, timbul masalah kekurangan air karena hilangnya sungai permukaan melalui rekahan-rekahan berupa gua yang tersebar diseluruh kawasan .

PERMASALAHAN AIR DI KAWASAN KARST

Dengan memperhatikan fenomena di atas, bisa diketahui bahwa di setiap musim kemarau tidak tersedia air permukaan dalam jumlah cukup. Sehingga bencana kekeringan menjadi ancaman di setiap tahun. Padahal jauh di bawah permukaan, air mengalir dengan percuma kemudian muncul di tempat lain yang jauh. Untuk selanjutnya pembicaraan dititikberatkan pada pemanfaatan sungai bawah tanah untuk penanggulangan masalah kekeringan tersebut. Salah satu kawasan karst yang memiliki kondisi ekstrim seperti tersebut di atas adalah satu kawasan di Kabupaten Gunungkidul yang terkenal dengan nama Kawasan Karst Gunung Sewu.

Tercatat di tahun 1987, bencana kekeringan diderita oleh sekitar 193.900 jiwa di 7 kecamatan wilayah Kabupaten tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan akan air, penduduk kawasan ini rela melakukan apa saja. Mereka mengkonsumsi air dari telaga-telaga yang, ada sekalipun di telaga tersebut juga berlangsung aktifitas mandi, cuci, dan memandikan ternak. Juga sumber-sumber air lainnya seperti gua-gua yang terdapat aliran sungai bawah tanah. Gambar: Warga masyarakat mengambil air dari gua.

UPAYA PERINTAH DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL SEBAGAI SEBUAH MODEL PEMANFAATAN SUNGAI BAWAH TANAH UNTUK MENGATASI BENCANAN KEKERINGAN

Pemerintah Daerah Gunungkidul sadar, bahwa sistem hidrologi kawasa karst sangat spesifik. Sistem hidrologi kawasan karst tidak dapat dianggap sama dengan kawasan yang berstrktur geologi berbeda. Bahkan sebuah penelitian hidrologi di satu kawasan kecil daerah karst-pun tidak dapat dapat dijadikan suatu model matematis untuk daerah karst yang lainnya.

Maka langkah pertama yang dilakukan PemDa adalah mendatangkan ilmuwan dari Inggris yang ahli dalam permasalahan hidrologi karst. Penelitian ini berlangsung pada tahun 1982 dan 1984. Dengan menelusuri dan memetakan lebih dari 200 buah gua dan sungai bawah tanah, berbagai metode survey untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk kepentingan pemanfaatannya nanti. Gambar. Pengukuran Debit Air menggunakan EC meter.



Untuk pertanian 34 buah dengan jumlah 890 lt/dt, yang mengairi lahan seluas 1.127 Ha. - Untuk air minum 20 buah dengan jumlah 131 lt/dt, untuk memenuhi kebutuhan 131.000 jiwa. - Terpadu pertanian dan air minum pedesaan 5 buah dengan jumlah 61 lt/dt. Pengangkatan dan distribusi air tersebut menggunakan sistem pompanisasi dan gravitasi, terbagi dalam 15 subsistem kawasan. Dalam rencana akan dapat terlayani sekitar 146.000 jiwa. Namun perkembangan terakhir justru lebih menampakkan satu harapan besar. Yaitu dengan pemompaan sungai bawah tanah yang mengalir di Gua Bribin dan pengeboran Gua Seropan, di Kecamatan Semanu.

Di Gua Bribin mengalir sungai bawah tanah dengan debit sekitar 1.500 lt/dt. Dalam tiga tahun terakhir dilaksanakan proyek skala besar untuk ukuran Pemerintah Daerah DaTi II. Direncanakan dipompa sekitar 400 lt/dt dengan layanan pompa 6 jam per hari dapat memenuhi kebutuhan 400.000 jiwa (50% penduduk Kabupaten Gunungkidul). Sedangkan dari Gua Seropan direncanakan akan digunakan untuk kepentingan pertanian. Direncanakan didistribusikan dengan pipa dan mengairi lahan di 4 kecamatan.

PELESTARIAN DAERAH TANGKAPAN AIR DAN DAERAH ALIRAN SUNGAI BAWAH TANAH

Seperti layaknya sungai permukaan, sungai bawah tanah juga memiliki Daerah Tangkapan Air dan Daerah Aliran Sungai. Usaha-usaha pelestarian sungai bawah tanah ini dilaksanakan dengan menyentuh aspek pelestarian kuatintas dan kualitas air (:mikrobiologis dan fisiolimianya). Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap jumlah air yang dapat disimpan dan lama waktu tinggal (residence time)nya.

Di permukaan, faktor yang berpengaruh adalah tanaman penutup, tanah penutup, dan bentuk lahan. Faktor lain adalah jenis batu gamping (tiap jenis batu gamping memiliki angka porositas berbeda), luas sebaran dan ketebalan batu gamping. Dari uraian tersebut diatas satu usaha perbaikan yang menyentuh satu atau keseluruhan faktor, diharapkan akan memberikan hasil akhir yaitu mempertahankan atau menambah jumlah air dibawah permukaan dan mempertinggi angka residence time air .

Pelestarian tanaman penutup, bila dilakukan dipilih jenis tanaman yang memiliki laju penguap-peluhan rendah tidak bernilai ekonomis tinggi, mudah dan cepat tumbuh dan tahan panas. Usaha pelestarian lainnya dapat dilakukan dengan memperbaiki bentuk bentang lahan, misalnya dengan pembuatan teras siring. Disamping itu perlu diusahakan juga penjagaan kualitas air sungai bawah tanah. Pemakaian pestisida dan penyubur buatan dipermukaan dapat mengakibatkan terkontaminasinya air sungai bawah tanah oleh polutan kimia .

Polutan-polutan kimia lainnya yang mungkin dapat membahayakan perlu mendapatkan perhatian pula, misalnya penelitian kadar trace elemen, khususnya Lithium terbukti mempunyai pengaruh terhadap proses psiko-fisiologis. Sebagai informasi, kawawan karst Gunung Sewu memiliki angka bunuh diri tertinggi di Indonesia.

BENTUK LAIN PEMANFAATAN SUNGAI BAWAH TANAH

Di salah satu pedukuhan kecil kawasan karst Gombong Selatan, sungai bawah tanah digunakan sebagai sumber pembangkit listrik dengan distribusi pembagian jumlah daya yamg mereka kelola sendiri. Meskipun di Kota Kecamatannya sendiri belum teraliri listrk dari PLN. - Untuk Industri, sungai bawah tanah Gua Londron di kawasan Maros Sulawesi Selatan yang sebagian besar dimanfaatkan pabrik semen Tonasa. - Sebagai laboratorium alam, sungai bawah tanah (baca : gua) memiliki biota, sistim hidrologi dan unsur lain yang spesifik.

Berbagai ilmu yang menyangkut biota, gua beserta lingkungannya, genesa gua dan lain sebagainya terdapat satu unifikasi ilmu yaitu speleologi. - Untuk wisata umum, di Kalimantan Selatan ada dua buah gua yang dapat dilayari yang mulai dikembangkan untuk wisata. - Wisata minat khusus, untuk penggemar kegiatan alam bebas (caving, cave diving, black water rafting). Berbagai macam kondisi yang multikomplek cukup menantang untuk penggemar kegiatan alam bebas. Saat ini perkembangan kegiatan caving dan kegiatan alam lain yang berhubungan banyak dilakukan di Indonesia maupun di luar negeri.

sumber : - ASC, Ekspedisi Maros, 1989. - ASC, Survey Gua-gua Gombong Selatan, 1993. - ASC, Survey Gua-gua Purwodadi-Pati, 1994 - ASC, Karst Hidrologi daerah Gunung sewu dan sekitarnya, 1992. - ASC, Gua, Air dan permasalahanya, 1989. - Ko, RKT. Makalah bebas, Dies Natalis HIKESPI, 1993. - Susanto, Sahid. Melestarikan Gua Bribin, Harian Umum Kedaulatan Rakyat, Agustus 1992.
dokumentasi foto: Bagus Yulianto

0 komentar:

Poskan Komentar